Data Tak Sesuai Fakta, Muthowif : Banyak Sekali Problem di Disnak Jatim

Ketua PPSDS, Muthowif (tengah)
Jawa Timur | Angka populasi sapi potong dan produksi daging segar di Jawa Timur sampai saat ini masih menuai kontroversi. pasalnya, Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS) Jawa Timur dan Dinas Peternakan (Disnak) Jatim memiliki data yang berbeda mengenai persoalan ketersediaan daging sapi.

Muthowif, Ketua PPSDS Jawa Timur melihat data yang dimiliki dan dipergunakan Dinas Peternakan (Disnak) Jatim tidak berdasarkan fakta yang ada di lapangan. Pihaknya menilai, asumsi terkait surplusnya jumlah daging sapi di Jatim yang selalu dilontarkan ke publik oleh Disnak Jatim maupun Gubernur Khofifah dianggap tidak sinkron dengan kenyataan yang ada.

Menurutnya, fakta yang terjadi, para pedagang hanya mendapati 175 kg daging segar untuk jenis sapi Jawa, dan sekitar 90 kg daging untuk jenis sapi Madura. Jauh berbeda dengan Disnak Jatim yang berasumsi per ekor sapi sampai menghasilkan 200 kg daging. Artinya ada selisih 25 kg daging yang dihasilkan untuk jenis sapi Jawa dan 110 kg daging untuk jenis sapi Madura.

“Jatim ini kalo soal sapi ya defisit, lah wong sapi yang dipotong di beberapa jagal dan di pasar-pasar tradisional itu jumlahnya sedikit” kata Muthowif di Surabaya, Kamis (16/1/2020).

Muthowif menambahkan, ada juga temuan PPSDS terkait dengan impor daging kerbau bahkan sapi yang keluar dari Jawa Timur tanpa dokumen yang lengkap. Hal ini berdasar pada data dan bukti yang Ia miliki.

“Belum lagi juga soal sapi bakalan/pedet yang dibawa keluar dari Jawa Timur tanpa dokumen yang lengkap, itu kan seharusnya masuk ke PAD. Banyak sekali problem di Disnak Jatim” imbuhnya.

Sementara, Budi Sarwoto Sekretaris Dinas Peternakan Jawa Timur mengatakan bahwa selama ini Disnak selalu menggunakan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dalam menghitung prognosa atau proyeksi. Mulai dari jumlah konsumsi, jumlah produksi dan sebagainya hingga nanti muncul angka sasaran terkait capaian di setiap akhir tahun.

Mengenai perhitungan bobot karkas pihaknya selalu berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) terkait bobot rata-rata ternak, mulai dari sapi potong untuk jenis lokal, madura, dan sebagainya yang pasti ada konversinya.

“Statement yang kita keluarkan itu juga sejalan dengan statement yang dikeluarkan oleh pusat. Karena Kementan juga mempunyai hitungan sendiri berdasarkan data produksi seluruh Indonesia mengenai daerah-daerah yang surplus maupun defisit. Nah, kita ini termasuk daerah yang surplus. Toh tidak untungnya juga jikalau kita mengatakan surplus ataupun defisit jikalau memang tidak sesuai dengan kondisi lapangan. Malahan nanti akan dapat menjebak masyarakat sendiri dan kita pasti akan ditegur oleh Gubernur serta masyarakat luas” tegas Sekretaris Disnak ini di kantornya Jl. Ahmad Yani No. 202, Gayungan, Kec. Gayungan Surabaya Jawa Timur. (ab/ip).

Posting Komentar

0 Komentar