Melemahnya Sistem Kapital dan Meningkatnya Kaulitas Lingkungan Hidup di Tengah Virus Corona

Sungai Venice Italia (Foto : dok. Istimewa)
Wabah virus corona (covid-19) telah meluluh lantahkan sistem sosial dan politik di banyak negara di dunia, tidak terkecuali Indonesia, pemerintah telah mengeluarkan himbawan social distencing atau yang di ganti dengan istilah physical distencing. Saya sebenarnya tidak terlalu peduli dengan istilah tersebut, namun yang menjadi fokus saya adalah dampak yang di akibatkan oleh wabah virus covid-19 ini. Tidak sedikit buruh pabrik di PHK, tidak sedikit ojek online yang pulang ke rumah tampa membawa uang untuk makan anak dan istrinya, tidak sedikit pedagang kecil yang harus gulung tikar dan menutup usahanya, dan masih banyak lagi. Ditambah harga masker dan hand sanitizer yang melambung tinggi hingga 500 persen membuat rakyat kecil terancam dan rentan terkena virus tersebut.

Teori ekonomi pasar,  apabila permintaan pasar lebih besar dari daya produksi maka akan terjadi kenaikan harga jual. maka tidak heran jika harga masker, hand sanitizer dan APD menjadi sangat mahal, namun kita juga perlu apresiasi bagi para pejuang masyarakat marginal yang masih peduli menggalang dana untuk membeli masker dan hand sanitizer kemudian diberikan percuma kepada masyarakat kecil.

Saya teringat seorang dokter nyentrik dengan gaya rambutnya yang panjang dan warna warni tidak menggambarkan seorang dokter pada umumnya, dia adalah dr. Tirta yang selalu mengingatkan kepada kita semua terutama influencer untuk stop memamerkan kekayaan pribadi, stop saling menghujat, kita sedang mempunyai musuh bersama yaitu virus corona yang telah menelan banyak korban jiwa di seluruh dunia. Bahkan dr. Tirta tidak segan menyebutkan influencer terkaya di Indonesia (AHHA) untuk menjual satu mobilnya dan menyumbangkan kepada masyarakat kecil untuk pertahanan melawan virus corona, ya memang sudah seharusnya masyarakat bahu membahu untuk melawan dan bebas dari pendemi virus corona di negara yang kita cintai. 

Meningkatnya Kualitas Lingkungan Hidup
Sejak diberitakan pada bulan desember 2019 yang lalu, kota Wuhan Negara Ciina mengalami serangan wabah virus corona dan telah memakan korban lebih dari 3000 jiwa, pemerintah Cina mengambil kebijakan lockdown dengan memberhentikan semua aktivitas kapital di kota tersebut, semua pabrik di tutup, pusat pembelanjaan seperti mall dan pasar-pasar ditutup total, tidak boleh ada keramaian dan bahkan pemerintah Cina menutup semua akses masuk dan keluar ke kota tersebut, atas kebijakan tersebut setidaknya ada 200 juta ton karbon berkurang di udara, diberitakan juga bahwa udara di kota Wuhan lebih bagus dibandingkan sebelum karantina total.

Greta Thunberg aktivis lingkungan berusia 17 tahun dari swedia telah lama menyerukan atas kerusakan iklim di bumi, dia percaya bahwa dengan kebijakan suatu negara maka bumi akan selamat dari ancaman global, fokus Greta adalah kebijakan negara, slogan yang sering dia tulis dan dibawa selama 14 hari di depan gedung PBB perwakilan  Swedia, "Skol strejk for klimatet" dia mengajak semua siswa di dunia untuk tidak sekolah dan tirun ke jalan untuk memperjuangkan keselamatan bumi dan iklim yang lebih baik, gerakan tidak sekolah gadis remaja tersubut membuat banyak siswa dibanyak negara turun ke jalan melakukan aksi untuk menyelamatkan bumi dari pemanasan global.

Apa yang dikatakan Greta ternyata terbukti, ketika mesin kapital berhenti seakan-akan bumi ini istirahat sejenak, ikan-ikan di sungai Venice Italia mulai bermunculan karena limbah pabrik tidak lagi mengalir ke sungai. Ditengah wabah virus corona ternyata kekuasaan politik membuat sistem kapital yang menimbulkan polusi berhenti, sehingga udara semakin sehat, dan hanya menggunakan kekuasaan politik, emisi di udara bisa dikurangi.

Penulis : Kholis PSS

Posting Komentar

0 Komentar