Sebulan Dipasang Prasasti dan Menghabiskan Rp. 67 Juta Anggaran, Plengsengan Ini Ambruk. Kenapa?

Inilah wajah Plengsengan yang ambruk di Dusun Bulu, Jaddung Pragaan Sumenep.
Sumenep | Pembangunan Palengsengan yang berada di Dusun Bulu Desa Jaddung Kecamatan Pragaan Sumenep ambruk, sejak tahun 2018 sampai sekarang belum mendapatkan perhatian dari pemerintah desa maupun pemerintah Kabupaten.

Pembangunan yang dilaksanakan tahun 2017 itu menghabiskan dana cukup tinggi yakni sekitar Rp. 67 juta lebih, namun setelah sebulan dinyatakan selesai dan dipasang prasasti pada bulan Oktober 2017 lalu plengsengan itu ambruk pada bulan Desember 2017.

Sebagaimana tertulis pada prasasti plengsengan tersebut, pembangunannya diduga tak sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB), sebab bangunan itu kembali ambruk pada Februari 2018 pada sisi yang lain dan membuat bangunan tersebut rusak parah.

Hal itu dibenarkan oleh M. Jufri, aktifis kepemudaan Desa Jaddung. Ia berasumsi bahwa sampai saat ini belum ada keinginan dari pemerintah untuk memperbaiki plengsengan tersebut padahal jalur ini juga menjadi jalur penghubung diantara dua desa yaitu Jaddung dan Pragaan Daya dan menjadi satu jalur bagi masyarakat dusun bulu. 

"Ini benar, sejak akhir 2017 sampai saat ini belum mendapatkan perhatian dari semua lini baik pemerintah desa atau kabupaten padahal kalau kita hitung-hitung anggaran betapa banyak uang negara yang diberikan kepada desa melalui DD/ADD." Ujar jufri (sapaannya) kepada pewarta berandajatim.com pada Selasa (10/03) pagi waktu setempat.

Bahkan, menurut jufri setiap tahun Dana Desa dan Alokasi Dana Desa (DD/ADD) Desa Jaddung setiap tahun mengalami peningkatan.

"Kalau kita analisa, anggaran untuk desa Jaddung 2018 saja mencapai Rp,1,6 M, bahkan tahun berikutnya lebih besar lagi dengan Rp. 1.8 M. Coba kita lihat lagi pagu anggaran 2020, DD saja di jaddung mencapai 1.3 M yang nanti akan ditambah dengan ADD bisa tembus Rp. 2 M lebih." Terangnya.

Lalu pihaknya mempertanyakan kenapa pemerintah desa dengan dana sebesar itu  tidak memperhatikan kemajuan desa dengan memperhatikan perbaikan infrastruktur bahkan untuk sekelas memperbaiki plesengan.

"ini yang perlu kita jawab bersama oleh masyarakat. Dana itu milik Desa kita bersama yang harus digunakan untuk kesejahteraan kita dengan sistem pemberdayaan masyarakat dalam sektor ekonomi, dan perbaikan infrastruktur." ungkapnya.

Lebih lanjut Jufri menambahkan bahwa jalur disekitar pelesengan tersebut adalah jalur yang digunakan anak-anak untuk mengenyam pendidikan, sehingga seharusnya pemerintah desa segera memperbaiki plesengan tersebut gunan memberikan kenyamanan dan keamanan bagi mereka yang melewati jalur di sekitar plesengan tersebut.

"Anehnya lagi sampai 2020 belum ada perbaikan padahal jalur itu jalur aktifitas anak-anak untuk mengenyam pendidikan, bahkan tak jarang anak-anak yang jatuh dan luka-luka dipintasan ini karena belum diperbaiki." Pungkasnya. (az/shaf)

Posting Komentar

0 Komentar