LKPj Gubernur 2019, Khofifah Sebut Pertumbuhan Ekonomi Jatim Lampaui Nasional

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Jatim tahun anggaran 2019
Surabaya | Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) tahun anggaran 2019 dalam rapat Paripurna di Kantor DPRD Jatim. 

Khofifah menjelaskan, pendapatan daerah Pemprov Jatim sebesar Rp 33,45 triliun. Artinya, terealisasi 100,08 persen dari target Rp 33,42. Lalu, belanja daerah yang direalisasikan sebesar Rp 34 triliun atau sebesar 89,48 persen dari rencana sebesar Rp 38 triliun.

“Pendapatan tersebut terdiri atas pendapatan asli daerah sebesar Rp 19,32 triliun, dana perimbangan sebesar Rp 17,94 triliun, dan lain-lain pendapatan yang sah sebesar Rp 186,39 miliar," kata Khofifah, Senin (13/4/2020).

Untuk pertumbuhan ekonomi Jawa Timur, di tahun 2019 melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yakni di angka 5,52 persen. Padahal, pertumbuhan nasional berada di kisaran 5,02 persen. Sementara capaian PDRB per kapita tahun 2019 juga meningkat sebesar 6,89 persen, dari 55,43 Juta tahun anggaran sebelumnya (2018) menjadi 59,25 Juta. Artinya tingkat kesejahteraan masyarakat Jawa Timur juga mengalami peningkatan.

Laporan kinerja terkait perekonomian Jawa Timur yang membaik itu juga di iringi oleh kinerja inflasi tahun 2019 yang cukup bisa terkendali. Laju inflasi sampai Desember di tahun 2019 mencapai 2,12 persen lebih rendah dibanding Inflasi tahun 2018 yang mencapai sebesar 2,86 persen. 

“Dibanding provinsi lain di Pulau Jawa, laju inflasi di Jawa Timur adalah yang paling rendah. Pun, jika dibandingkan dengan rata-rata nasional sebesar 2,72 persen,” kata Khofifah.

Khofifah juga menjelaskan, pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Provinsi Jawa Timur, dimana selama tiga tahun terakhir terus menunjukkan peningkatan. Yaitu masing-masing 70,27 pada 2017 dan 70,77 pada 2018, sedangkan pada tahun 2019 mencapai 71,50. 

“Yang membanggakan, capaian tahun 2019 tumbuh sebesar 1,03 persen, tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan pada tujuh tahun terakhir (2013-2019) sebesar 0,99 persen,” katanya.

Untuk angka penduduk miskin, per September 2019 sebesar 10,20 persen, atau menurun sebesar 0,65 persen dibanding September 2018 sebesar 10,85 persen. Secara absolut, jumlah penduduk miskin Jawa Timur pada September 2019 sebanyak 4.056.000 jiwa, menurun sebesar 236,15 ribu jiwa dibanding September 2018 sebesar 4.292.150 jiwa.

“Penurunan penduduk miskin tahun 2019 ini adalah terbesar sejak tahun 2013, serta memberikan kontribusi sebesar 26,57 persen terhadap penurunan jumlah penduduk miskin secara nasional,” urai Khofifah.

Dalam hal capaian Indeks Gini, Jawa Timur berada di angka 0,364 atau turun sebesar 0,007 poin dibandingkan 2018 yang sebesar 0,371. Menurut Khofifah, ini merupakan capaian terendah dalam kurun waktu enam tahun (2013-2018). "Artinya ketimpangan di Jawa Timur makin sempit,” tuturnya. (ab/ip)

Posting Komentar

0 Komentar