Inilah Pengakuan Ibnu Ghofur dan Totok Sumedi Terkait Kasus Suap Infrastruktur Kabupaten Sidoarjo

Ibnu Ghofur saat memberikan kesaksian terhadap 3 terdakwa

Sidoarjo | Tiga terdakwa kasus Suap Proyek Infrastruktur Kabupaten Sidoarjo menjalani Sidang Lanjutan yang digelar di ruang sidang Chandra Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya, Jalan Raya Juanda Sidoarjo (10/08).

Ketiga terdakwa tersebut adalah Sanadjihitu Sangaji atau Kepala Bagian (Kabag) Unit Lelang Pengadaan (ULP), Sunarti Setyaningsih yang merupakan Kepala Dinas PUBM-SDA (Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air), serta Judi Tetrahastoto atau Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga di Dinas PUBM-SDA.

Sidang tersebut diwarnai dengan dihadirkannya Ibnu Ghofur dan Totok Sumedi sebagai saksi yang juga merupakan kontraktor pemberi suap kepada tiga terdakwa.

Ibnu Ghofur dan Totok Sumedi sebelumnya sudah divonis 20 bulan penjara oleh majelis hakim yang dipimpin oleh Cokorda Gadhe Artana karena telah terbukti memberikan suap kepada para pejabat dilingkungan pemerintah kabupaten Sidoarjo.

Dalam kesaksiannya saat ditanya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Ibnu Ghofur mengaku bahwa uang yang telah diberikannya kepada para pegawai dan pejabat Pemkab Sidoarjo, termasuk diantaranya kepada tiga terdakwa, Anggota Pokja dan Bupati Sidoarjo Nonaktif, H. Saiful Ilah serta kepada Yanuar selaku Kabid di P2CKTR Sidoarjo. 

Uang pemberian itu diberikan dengan tujuan untuk memenangkan sejumlah tender proyek infrastruktur seperti proyek Candi-prasung, Pasar Porong, Afvour Pucang dan Wisma Atlet terhadap 4 perusahaan konstruksi yang dimilikinya.

“ya karena sudah dapat 4 proyek itu” jawab Ibnu Ghofur saat ditanya alasan pemberian uang oleh JPU KPK.

Setelah Sekitar 2 jam lebih Ibnu Ghofur dihujani pertanyaan oleh JPU KPK, baru kemudian Giliran Totok Sumedi memberikan kesaksiannya.

Dalam pengakuannya, Totok Sumedi merasa sangat mengenal Ibnu Ghofur sedari dulu dan bahkan mengetahui kalau Ibnu Ghofur bersama dirinya memberikan sejumlah uang kepada para pejabat pemkab Sidoarjo.
 
Ia mengaku memberikan sejumlah uang sebagai tanda ucapan terimakasih kepada beberapa pejabat dilingkungan pemkab Sidoarjo karena sudah memenenagkan 3 tender proyek dan 4 Penunjukan Langsung (PL) dari pemkab Sidoarjo.

Saat ditanya mengenai jumlah uang yang diberikan, Totok mengaku apabila mendapat proyek penunjukan langsung yang nilainya mencapai 200 juta, ia menyiapkan sekitar 10 Juta untuk diberikan kepada pejabat pemkab Sidoarjo.

“Paling kecil sekitar 5 Juta, itu kalau nilainya hanya 100 sampai 130 juta” jelas Totok saat menjawab pertanyaan JPU KPK.

Selesai memberikan kesaksian Ibnu Gofur dan Totok Sumedi langsung di bawa kembali oleh petugas ke ruang tahanan, setelah itu sidang sempat diskors pada pukul 17.00 WIB dan dilanjutkan satu jam kemudian untuk mendengarkan kesaksian 3 orang lainnya yakni Arif Sulistiono sebagai konsultan pengawas, Wahyu Soni, dan Rahmawati Sulistyo hingga sekitar pukul 19.00 WIB.

Karena itulah ketika giliran Bupati Sidoarjo non aktif Saiful Ilah hendak dijadikan saksi atas ketiga terdakwa urung dilaksanakan, ia lantas langsung dikembalikan ke sel tahanan dan akan di hadirkan kembali sebagai saksi di persidangan berikutnya.

Dalam kasus suap tersebut, ketiga terdakwa disebut telah menerima uang dari Ibnu Ghofur dan Totok Sumedi sejak Juli 2019 sampai Januari 2020 atau pada saat Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK.

Terdakwa Sanadjihitu Sangadji disebut telah menerima uang sebesar Rp 300 juta dari Ibnu Gopur, Sunarti Setyaningsih sebesar Rp. 225 Juta dari Ibnu Ghofur yang diberikannya di Ikan Bakar Cianjur dan Judi Tetrahastoto disebut telah menerima suap hingga mencapai Rp 360 juta dari Ibnu Gopur dan Totok Sumedi.

Sementara itu, Sebanyak Rp. 550 Juta diberikan Ibnu Ghofur dan Totok Sumedi kepada Bupati Sidoarjo nonaktif Saiful Ilah. Ketiganya telah ditangkap KPK pada 7/01/2020 lalu. (md/mh)

Posting Komentar

0 Komentar